Minggu, 20 Mei 2012

Cerpen-Hujan Meteor


Hujan Meteor
Nurul Syifa Wahyuningrum

Bulan sabit berwarna kebiruan menggantung di langit yang gelap. Mei duduk di bingkai jendela kamarnya yang lebar. Mei melempar pandangannya keluar jendela, tampak seberkas cahaya di ujung matanya. Ia pun mendesah lalu mengambi, sesuatu dari dalam saku piyamanya. Benda itu berbentuk seperti botol kecil yang berukuran sekitar dua ruas tulang jari telunjuk, berwarna biru langit, dan dengan tutup yang tersegel kuat. Di dalamnya terdapat permata dengan cahaya warna-warni bagai pelangi. Botol itu dikaitkan pada sebuah rantai kecil. Sambil memegang erat botol kecil itu, Mei teringat akan orang yang memberinya botol itu. Ya, orang itu adalah Lisa, teman masa kecil Mei tujuh tahun lalu. Tapi, tanpa alasan yang jelas dan mendadak, Lisa yang memberikan botol itu lalu menghilang dari hadapannya. Tentu saja Mei bingung karena tak mengetahui apa-apa. Malah ia sempat menganggap Lisa sudah meninggal karena tak ada kabar apapun tentangnya. Ia putus asa. Hanya beberapa kata yang diucapka Lisa sebelum mereka berpisah, saat ia memberi botol kecil itu pada Mei.
“Hehe, aku punya hadiah untukmu” ucap Lisa suatu hari.
“Wah, apa itu? Ulang tahunku ‘kan masih lama” jawab Mei bingung.
“Yaah, ‘gak apa-apa ‘kan? Hadiah nggak mesti pas ulang tahun ‘kan? Nah, ini dia” Lisa menyerahkan bungkusan berwarna oranye dengan garus kuning yang diberi pita berwarna biru.
“Aku buka, ya?” tanya Mei.
“Silahkan...” Lisa memperbolehkan Mei membuka kado tadi.
“Waah, apa ini? Cantiknya!” Mei kagum dengan isi bingkisan itu. Ya, sebuah botol kecil berisi batu permata yang bercahaya putih.
“Hehe, pasangan denganku, nih!” ujar Lisa seraya menunjukkan botol kecil yang sama dengan yang dimiliki Mei.
“Toss!” mereka menyentuhkan kedua botol itu dan terdengar bunyi, “Ting”.
“Lisa, akankah kita masih bisa bertemu lagi?” desah Mei sambil memandang tak tentu di kejauhan.
Bulan itu masih tetap bersinar. Mei menyimpan lagi botol kecil itu di saku piyamanya. Ia beranjak dari jendela kamarnya, beralih ke atas kasur. Ia tertidur.
***
Suatu pagi di kelas Mei...
“Ah, selamat pagi, Mei!” sapa Yuki.
“Selamat pagi juga” jawab Mei yang sedang memperhatikan botol kecil pemberian Lisa di depan matanya.
“Eh, benda apa itu?” tanya Yuki heran melihat botol kecil itu.
“Oh, ini. Ini benda berharga pemberian sahabat masa kecilku. Ia memberiku benda ini tujuh tahun lalu” terang Mei.
“Boleh nggak aku melihatnya?” tanya Yuki.
“Boleh, kok! Ini!” jawab Mei sambil menyerahkan botol itu.
Yuki pun mengambil benda itu dan menatapnya. “Cantik, ya!”. Baru saja ia bilang begitu, ia terpeleset dan terjatuh. Begitu juga botol itu.
“PRANG!” botol itu pecah berkeping-keping, namun tidak dengan permata yang berada di dalamnya.
Mei terperanjat melihatnya. Ia langsung memungut serpihan botol kaca itu. Tanpa pikir panjang, ia berteriak lantang, “Jahat sekali kamu! Ini benda berharga milikku!”
“Ma...Maaf. Aku tidak sengaja menjatuhkannya” jawab Yuki terbata-bata. “Maafkan aku....” Yuki meminta maaf untuk kedua kalinya.
“Kh, sudahlah!” Mei berlari keluar kelas dengan permata dan serpihan botol kaca tadi. Ia meninggalkan Yuki begitu saja sambil menangis.
“T..Tapi...”
***
Bulan pun menggantikan matahari, menggantung di hamparan langit hitam nan luas. Ia ditemani oleh ribuan teman kecilnya yang berkelap-kelip indah. Bulan sudah hampir penuh. Mei membuka jendela kamarnya dan menatap di kejauhan. Angin malam menerpa wajahnya dengan lembut. Ia termenung memikirkan Lisa. Mungkin, ia mulai sedikit melupakannya di SMA ini. Namun, kenangan dengan Lisa dan juga botol kecil itu tetap mengingatkannya. Ia menatap langit yang dipenuhi berbagai rasi bintang. Ada rasi bintang Ursa Major, Ursa Minor, Virgo, dan banyak lagi.
“Rrr...Rrr...Rrr...” handphone Mei yang berlayar sentuh bergetar. Ada pesan masuk. Ia pun membukanya.
“Ah, Yuki ternyata...” ia membaca isi pesan itu. Isinya:
Untuk Mei. Hai Mei, maafkan aku untuk tadi siang. Aku benar-benar tidak bermaksud menjatuhkannya.
-Yuki-
“Kh, sudahlah. Lebih baik aku tak membalasnya” pikir Mei.
Mei melanjutkan lamunannya. Ia teringat, besok malam ada hujan meteor. Hujan meteor itu bisa dilihat dari kotanya. Ia memutuskan untuk melihatnya besok malam di Taman Kota. “Mungkin aku bisa melupakan soal hari ini kalau aku melihat hujan meteor itu” pikir Mei sambil mendesah.
Hari sudah larut, walaupun besok sekolah libur karena libur nasional, Mei tidak mau tidur terlalu malam. Ia pun memutuskan untuk tidur.
***
Waktu menunjukkan jam tujuh malam. Mei mulai bersiap-siap. Ia akan melihat hujan meteor itu malam ini. Sekitar 15 menit kemudian, Mei berangkat dari rumahnya menuju Taman Kota. Angin malam sedikit menusuk kulit malam ini. Karena itu, Mei mengenakan kaos lengan panjang, jaket berlengan pendek, dan celana panjang.
Tepat jam setengah delapan malam, ia sampai di Taman Kota. Ternyata ada beberapa orang disana. “Mungkin mereka ingin melihat hujan meteor itu juga” pikir Mei menatap ke sekitar.
Ia lalu menatap ke langit. Tak lama kemudian langit sudah dipenuhi oleh ratusan meteor yang melesat dari arah barat ke arah timur. “Indah sekali, mungkin bagus kalau difoto” ujar Mei dalam hati seraya mengambil handphonenya dari dalam saku bajunya.
Baru saja ia mau memotret, ia melihat seorang gadis bersyal oranye terduduk di atas kursi roda hendak memotret langit itu juga. Gadis itu pun menoleh ke arah Mei. Mei sangat terkejut. Dia adalah orang yang selama ini dirindukan Mei.
“Kh, Lisaaaa!” teriak Mei sambil berlari. Gadis itu pun terkejut.
“Hah?” katanya, “Siapa kamu?”
Mei memeluk gadis di kursi roda itu. “Ini aku, Mei!” ujar Mei sesenggukan, “Apa kamu lupa?”
“Mei?” gadis itu tetap heran.
“Iya! Aku Mei Hoshigawa. Kamu ingat? Tujuh tahun lalu kamu memberiku permata ini di dalam botol” ucap Mei menunjukkan permata yang ada di dalam botol yang sudah pecah itu. “Tapi, botol itu sudah pecah”
“Eh, benda itu...” ia sepertinya mulai paham. “Mei?” ia ikut menangis. Setelah itu, ia menunjukkan benda yang sama dengan punya Mei.
“Lisaaaaa!” Mei dan Lisa, gadis bersyal oranye itu berpelukan. “Kenapa kamu memakai kursi roda? Apa yang terjadi padamu selama tujuh tahun ini?” tanya Mei tak sabar.
“Hmm” Lisa tersenyum sendu. “Tujuh tahun lalu, aku mengalami kecelakaan. Karena akibat dari kecelakaan itu sangat parah dan membahayakan tubuhku, aku pun dibawa kedua orang tuaku keluar negeri untuk operasi” ia terlihat menahan kesedihan yang amat sangat. “Tapi apa daya, walaupun sudah operasi, aku tetap harus menggunakan kursi roda kemanapun” Lisa terdiam sejenak. “Karena itu aku tak bisa menemuimu selama tujuh tahun ini”.
“Begitukah? Kamu tahu? Aku sangat ingin bertemu denganmu! Karena itu, aku selalu menjaga benda ini” Mei menunjukkan permatanya yang sedang bersinar dengan terangnya.
“Hehe, kalau begitu sama denganku” Lisa menunjukkan juga botolnya. Kedua benda  itu bercahaya warna-warni yang sangat terang, bersamaan.
Mereka berdua tertawa.
Beberapa menit kemudian, Yuki datang ke arah mereka berdua.
“Apa yang kamu lakukan disini??” tanya Mei dengan nada agak tinggi.
“Hmm, sebenarnya aku mau minta maaf soal kemarin di sekolah” ujar Yuki buru-buru. “Aku minta maaf”
“Hmm, yaa sebenarnya nggak masalah sih. Aku maafin, kok” jawab Mei. “Dan juga maaf karena aku berteriak kepadamu dan menuduhmu orang jahat”
“Terima kasih, Mei. Iya, wajar kok kamu berkata begitu. Itu benda berharga milikmu, kan?” balas Yuki dengan nada pelan.
“Iya, itu memang benda berharga. Tapi, ada yang lebih berharga daripada itu...” jawab Mei.
“Apa itu?” tanya Yuki heran.
“Yuki, kenalkan. Ini Lisa. Orang yang memberiku benda itu” ujar Mei seraya mengenalkan Lisa pada Yuki.
Yuki tidak menyadari kalau ada orang lain selain mereka berdua. Ia pun memperkenalkan dirinya pada Lisa dan Lisa juga memperkenalkan dirinya pada Yuki.
“Ooh, aku mengerti!” ujar Yuki tiba-tiba. “Yang lebih berharga itu adalah....” belum sempat Yuki melanjutkan kata-katanya, Mei sudah memotongnya lebih dulu.
“Ya. Persahabatan kita bertiga. Itu lebih berharga dibanding apapun yang ada di dunia ini” ujar Mei melanjutkan kata-kata Yuki.
Yuki menitikkan air matanya.
Mereka bertiga pun melihat hujan meteor itu. Memang sangat indah. Terutama melihatnya bersama sahabat tercinta. Mereka memutuskan untuk saling bersama walau terpisahkan jarak. Itulah makna seorang sahabat sejati.
****

Readmore »»  

Sabtu, 19 Mei 2012

Tomat dan Bunga Matahari

Last week, I went to a shop and found grow kits for tommato and sunflower. Then, I decided to buy each of them. Now, they are starting to bloom their leaves under the sunlight. Like this flower,,,
I drew it for 2 months ago......
Readmore »»