Hujan Meteor
Nurul Syifa Wahyuningrum
Bulan sabit
berwarna kebiruan menggantung di langit yang gelap. Mei duduk di bingkai
jendela kamarnya yang lebar. Mei melempar pandangannya keluar jendela, tampak
seberkas cahaya di ujung matanya. Ia pun mendesah lalu mengambi, sesuatu dari
dalam saku piyamanya. Benda itu
berbentuk seperti botol kecil yang berukuran sekitar dua ruas tulang jari
telunjuk, berwarna biru langit, dan dengan tutup yang tersegel kuat. Di
dalamnya terdapat permata dengan cahaya warna-warni bagai pelangi. Botol itu
dikaitkan pada sebuah rantai kecil. Sambil memegang erat botol kecil itu, Mei
teringat akan orang yang memberinya botol itu. Ya, orang itu adalah Lisa, teman
masa kecil Mei tujuh tahun lalu. Tapi, tanpa alasan yang jelas dan mendadak,
Lisa yang memberikan botol itu lalu menghilang dari hadapannya. Tentu saja Mei
bingung karena tak mengetahui apa-apa. Malah ia sempat menganggap Lisa sudah
meninggal karena tak ada kabar apapun tentangnya. Ia putus asa. Hanya beberapa
kata yang diucapka Lisa sebelum mereka berpisah, saat ia memberi botol kecil
itu pada Mei.
“Hehe, aku
punya hadiah untukmu” ucap Lisa suatu hari.
“Wah, apa
itu? Ulang tahunku ‘kan masih lama”
jawab Mei bingung.
“Yaah, ‘gak apa-apa ‘kan? Hadiah nggak mesti pas ulang tahun ‘kan? Nah, ini dia” Lisa menyerahkan
bungkusan berwarna oranye dengan garus kuning yang diberi pita berwarna biru.
“Aku buka,
ya?” tanya Mei.
“Silahkan...”
Lisa memperbolehkan Mei membuka kado tadi.
“Waah, apa
ini? Cantiknya!” Mei kagum dengan isi bingkisan itu. Ya, sebuah botol kecil
berisi batu permata yang bercahaya putih.
“Hehe,
pasangan denganku, nih!” ujar Lisa
seraya menunjukkan botol kecil yang sama dengan yang dimiliki Mei.
“Toss!”
mereka menyentuhkan kedua botol itu dan terdengar bunyi, “Ting”.
“Lisa,
akankah kita masih bisa bertemu lagi?” desah Mei sambil memandang tak tentu di
kejauhan.
Bulan itu
masih tetap bersinar. Mei menyimpan lagi botol kecil itu di saku piyamanya. Ia beranjak dari jendela
kamarnya, beralih ke atas kasur. Ia tertidur.
***
Suatu pagi
di kelas Mei...
“Ah,
selamat pagi, Mei!” sapa Yuki.
“Selamat
pagi juga” jawab Mei yang sedang memperhatikan botol kecil pemberian Lisa di
depan matanya.
“Eh, benda
apa itu?” tanya Yuki heran melihat botol kecil itu.
“Oh, ini.
Ini benda berharga pemberian sahabat masa kecilku. Ia memberiku benda ini tujuh
tahun lalu” terang Mei.
“Boleh nggak aku melihatnya?” tanya Yuki.
“Boleh, kok! Ini!” jawab Mei sambil menyerahkan
botol itu.
Yuki pun
mengambil benda itu dan menatapnya. “Cantik, ya!”. Baru saja ia bilang begitu,
ia terpeleset dan terjatuh. Begitu juga botol itu.
“PRANG!”
botol itu pecah berkeping-keping, namun tidak dengan permata yang berada di dalamnya.
Mei
terperanjat melihatnya. Ia langsung memungut serpihan botol kaca itu. Tanpa
pikir panjang, ia berteriak lantang, “Jahat sekali kamu! Ini benda berharga
milikku!”
“Ma...Maaf.
Aku tidak sengaja menjatuhkannya” jawab Yuki terbata-bata. “Maafkan aku....”
Yuki meminta maaf untuk kedua kalinya.
“Kh,
sudahlah!” Mei berlari keluar kelas dengan permata dan serpihan botol kaca
tadi. Ia meninggalkan Yuki begitu saja sambil menangis.
“T..Tapi...”
***
Bulan pun
menggantikan matahari, menggantung di hamparan langit hitam nan luas. Ia
ditemani oleh ribuan teman kecilnya yang berkelap-kelip indah. Bulan sudah
hampir penuh. Mei membuka jendela kamarnya dan menatap di kejauhan. Angin malam
menerpa wajahnya dengan lembut. Ia termenung memikirkan Lisa. Mungkin, ia mulai
sedikit melupakannya di SMA ini. Namun, kenangan dengan Lisa dan juga botol
kecil itu tetap mengingatkannya. Ia menatap langit yang dipenuhi berbagai rasi
bintang. Ada rasi bintang Ursa Major,
Ursa Minor, Virgo, dan banyak
lagi.
“Rrr...Rrr...Rrr...”
handphone Mei yang berlayar sentuh
bergetar. Ada pesan masuk. Ia pun membukanya.
“Ah, Yuki
ternyata...” ia membaca isi pesan itu. Isinya:
“Untuk Mei. Hai Mei, maafkan
aku untuk tadi siang. Aku benar-benar tidak bermaksud menjatuhkannya.
-Yuki-“
“Kh, sudahlah.
Lebih baik aku tak membalasnya” pikir Mei.
Mei
melanjutkan lamunannya. Ia teringat, besok malam ada hujan meteor. Hujan meteor
itu bisa dilihat dari kotanya. Ia memutuskan untuk melihatnya besok malam di
Taman Kota. “Mungkin aku bisa melupakan soal hari ini kalau aku melihat hujan
meteor itu” pikir Mei sambil mendesah.
Hari sudah
larut, walaupun besok sekolah libur karena libur nasional, Mei tidak mau tidur
terlalu malam. Ia pun memutuskan untuk tidur.
***
Waktu
menunjukkan jam tujuh malam. Mei mulai bersiap-siap. Ia akan melihat hujan
meteor itu malam ini. Sekitar 15 menit kemudian, Mei berangkat dari rumahnya
menuju Taman Kota. Angin malam sedikit menusuk kulit malam ini. Karena itu, Mei
mengenakan kaos lengan panjang, jaket berlengan pendek, dan celana panjang.
Tepat jam
setengah delapan malam, ia sampai di Taman Kota. Ternyata ada beberapa orang
disana. “Mungkin mereka ingin melihat hujan meteor itu juga” pikir Mei menatap
ke sekitar.
Ia lalu
menatap ke langit. Tak lama kemudian langit sudah dipenuhi oleh ratusan meteor
yang melesat dari arah barat ke arah timur. “Indah sekali, mungkin bagus kalau
difoto” ujar Mei dalam hati seraya mengambil handphonenya dari dalam saku bajunya.
Baru saja
ia mau memotret, ia melihat seorang gadis bersyal oranye terduduk di atas kursi
roda hendak memotret langit itu juga. Gadis itu pun menoleh ke arah Mei. Mei
sangat terkejut. Dia adalah orang yang selama ini dirindukan Mei.
“Kh,
Lisaaaa!” teriak Mei sambil berlari. Gadis itu pun terkejut.
“Hah?”
katanya, “Siapa kamu?”
Mei memeluk
gadis di kursi roda itu. “Ini aku, Mei!” ujar Mei sesenggukan, “Apa kamu lupa?”
“Mei?”
gadis itu tetap heran.
“Iya! Aku
Mei Hoshigawa. Kamu ingat? Tujuh tahun lalu kamu memberiku permata ini di dalam
botol” ucap Mei menunjukkan permata yang ada di dalam botol yang sudah pecah
itu. “Tapi, botol itu sudah pecah”
“Eh, benda
itu...” ia sepertinya mulai paham. “Mei?” ia ikut menangis. Setelah itu, ia
menunjukkan benda yang sama dengan punya Mei.
“Lisaaaaa!”
Mei dan Lisa, gadis bersyal oranye itu berpelukan. “Kenapa kamu memakai kursi
roda? Apa yang terjadi padamu selama tujuh tahun ini?” tanya Mei tak sabar.
“Hmm” Lisa
tersenyum sendu. “Tujuh tahun lalu, aku mengalami kecelakaan. Karena akibat
dari kecelakaan itu sangat parah dan membahayakan tubuhku, aku pun dibawa kedua
orang tuaku keluar negeri untuk operasi” ia terlihat menahan kesedihan yang
amat sangat. “Tapi apa daya, walaupun sudah operasi, aku tetap harus
menggunakan kursi roda kemanapun” Lisa terdiam sejenak. “Karena itu aku tak bisa menemuimu selama tujuh tahun
ini”.
“Begitukah?
Kamu tahu? Aku sangat ingin bertemu denganmu! Karena itu, aku selalu menjaga
benda ini” Mei menunjukkan permatanya yang sedang bersinar dengan terangnya.
“Hehe,
kalau begitu sama denganku” Lisa menunjukkan juga botolnya. Kedua benda itu bercahaya warna-warni yang sangat terang,
bersamaan.
Mereka
berdua tertawa.
Beberapa
menit kemudian, Yuki datang ke arah mereka berdua.
“Apa yang
kamu lakukan disini??” tanya Mei dengan nada agak tinggi.
“Hmm,
sebenarnya aku mau minta maaf soal kemarin di sekolah” ujar Yuki buru-buru.
“Aku minta maaf”
“Hmm, yaa sebenarnya nggak masalah sih. Aku
maafin, kok” jawab Mei. “Dan juga
maaf karena aku berteriak kepadamu dan menuduhmu orang jahat”
“Terima
kasih, Mei. Iya, wajar kok kamu
berkata begitu. Itu benda berharga milikmu, kan?”
balas Yuki dengan nada pelan.
“Iya, itu
memang benda berharga. Tapi, ada yang lebih berharga daripada itu...” jawab
Mei.
“Apa itu?”
tanya Yuki heran.
“Yuki,
kenalkan. Ini Lisa. Orang yang memberiku benda itu” ujar Mei seraya mengenalkan
Lisa pada Yuki.
Yuki tidak
menyadari kalau ada orang lain selain mereka berdua. Ia pun memperkenalkan
dirinya pada Lisa dan Lisa juga memperkenalkan dirinya pada Yuki.
“Ooh, aku
mengerti!” ujar Yuki tiba-tiba. “Yang lebih berharga itu adalah....” belum
sempat Yuki melanjutkan kata-katanya, Mei sudah memotongnya lebih dulu.
“Ya.
Persahabatan kita bertiga. Itu lebih berharga dibanding apapun yang ada di
dunia ini” ujar Mei melanjutkan kata-kata Yuki.
Yuki
menitikkan air matanya.
Mereka
bertiga pun melihat hujan meteor itu. Memang sangat indah. Terutama melihatnya
bersama sahabat tercinta. Mereka memutuskan untuk saling bersama walau
terpisahkan jarak. Itulah makna seorang sahabat sejati.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar